JENIS-JENIS ANAK LUAR BIASA

Dalam Petunjuk Praktis Penyelenggaraan Sekolah Luar Biasa dikemuka-kan bahwa klasifikasi anak-anak luar biasa tidak semudah apa yang kita sangka, sebab seorang anak dapat mengalami penyimpangan-penyimpangan ganda sebagai akibat dari sebuah kelainan. Misalnya, seorang anak mengalami kelainan otak, dan manifestasi dari kelainan itu ternyata adalah menghambat perkembangan inteleknya. Anak yang lain yang mengalami kelainan pada otak, ternyata hanya menderita tuna wicara saja. Kemudian kita masih dihadapkan pada perbedaan gradual. Jadi, di antara anak-anak yang buta, terdapat mereka yang masih melihat cahaya, ada yang masih dapat melihat obyek-obyek besar, dan sebaliknya ada pula yang sama sekali tidak dapat melihat. Lebih lanjut diamati juga perbedaan gradual pada anak-anak yang mengalami hambatanhambatan mental. Misalnya, ada yang “perlu rawat“ yaitu mereka yang tidak dapat dilatih untuk sesuatu kecakapan tertentu. Anak-anak ini dikenal dengan sebutan “idiot”. Mereka yang ada di atas tingkatan idiot adalah mereka yang disebut “embisil”. Mereka itu anak-anak “mampu latih” yang masih dapat dilatih untuk menjaga dan merawat diri sendiri. Anak-anak yang “debil” mempunyai kemampuan mental di atas anak-anak embisil, tetapi masih terlalu jauh dari anak-anak normal. Mereka itu ialah anak-anak “mampu didik”. Menurut Mohamad Amin (1992) dalam Seminar Nasional Pengembangan PLB di
Indonesia, klasifikasi anak luar biasa yang hingga kini masih memiliki nilai-nilai praktis penyelenggaraan yang tinggi, adalah sebagai berikut:
1) Bagian A – Pendidikan bagi anak tunanetra
2) Bagian B – Pendidikan bagi anak tunarungu
3) Bagian C – Pendidikan bagi anak tunagrahita
4) Bagian D – Pendidikan bagi anak tunadaksa
5) Bagian E – Pendidikan bagi anak tunalaras, yaitu anak-anak yang sukar menyesuaikan diri (maladjusted), dan anak-anak nakal (delinquent).
6) Bagian G – Pendidikan bagi anak tunaganda
Sebab-sebab keluarbiasaan
Seperti telah dijelaskan pada bagian Ortopedagogik, sebab-sebab keluar-biasaan untuk dapat ditinjau dari segi waktu kejadiannya, yakni prenatal (masa dalam kandungan), natal (masa kelahiran) dan post natal (masa setelah kelahiran). Namun demikian, terdapat pula faktor- faktor keturunan yang disebut juga faktor endogeen atau tropographical causes dan faktor-faktor perolehan atau disebut juga faktor exogeen atau etiological causes (Meiyani, 1990).
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196205121988032-NENI_MEIYANI/7-Ulasan/OrtoPedagogik.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s