KARAKTERISTIK DAN MASALAH PERKEMBANGAN ANAK BERKESULITAN BELAJAR

Istilah anak kesulitan belajar sering disebut kelompok lesarning diabilities. Kesulitan belajar lebih didefinisikan sebagai gangguan perceptual, konseptual, memori, maupun ekspresif di dalam belajar Hal ini disebabkan oleh gangguan di dalam sistem saraf pusat otak ( gangguan neorubioligis ) yang dapat menimbulkan gangguan perkembangan seperti gangguan perkembangan bicara, membaca, menulis, pemahaman, dan berhitung. Anak-anak disekolah pada umumnya memiliki karakteristik individu yang berbeda, baik dari segi fisik, mental, intelektual, ataupun social-emosional. Oleh karena itu mereka juga akan mengalami persoalan belajarnya mesing-masing secara individu, dan akan mengalami berbagai jenis kesulitan belajar yang berbeda pula., sesuai dengan karakteristik dan potensinya masing-masing.
Menurut Badan Penasihat Nasional Penyandang Cacat Amerika Serikat learning disability adalah sebagai berikut :
Specific lerning disability “ means a disorder in one or more of the basic psychological processes involved in understanding or in using language, spoken or written, which may manifest itself in an imperfect ability to listen, think, speak, read, write, spell, or to do mathematical calculations. The term include such conditions as perceptual handicaps, brain injury, minimal brain dysfunction, dyslexia, and developmental aphasia. The term does not include children who have leaning problems which are primarily the result of visual hering or motor handicaps, of mental retardation or emotional disturbance, or of environmental, curtural , or economic disadavantage.
Anak berkesulitan belajar tidak termasuk dengan keompok anak luar bisa, mari kita amati kasus dengan ilustrasi sebagai berikut :
Nani seorang anak perempuan berusia 9 tahun yang menunjukkan ketidak mampuan dalam berkonsentrasi terhadap pekerjaan sekolah kecuali dalam beberapa menit saja.Secara konstan dia selalu keluar dari tempat duduknya dan menggangu temannya. Ketika dia melakukan konsentrasi , dia seringkali bertatahan terhadap hal-hal kecil yang tak berarti, misalnya dia hanya memperhatikan bagian kecil dari gambar ketimbang memperhatikan gambar itu secara keseluruhan. Dia menunjukan kekacauan didalam permainan dilapangan. Dia tidak mampu melempar atau menengkap bola dengan tepat dan terkoordinasi sebagaimana gadis lain seusianya. Dia bersifat implusi untuk menyakiti anak lain tanpa alas an yang jelas. Nani adalah seorang anak yang berkesulitan belajar, dia tidak mampu melakukan tugas-tugas akademik dengan baik kendatipun fakta menunjukan bahwa dia memperoleh skor intelegensi dalam rentang rata-rata.
Faktor – faktor yang menimbulkan kesulitan belajar
Menurut Kephant 1967 mengelompokkan kesulitan belajar kedalam tiga kategori utama yaitu :
1. Kerusakan otak, berartinya terjadinya kerusakan syaraf. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan kerusakan fungsi otak yang diperlukan untuk proses belajar pada anak dan remaja.
2. Gangguan emosional, terjadi karena adanya trauma emosional yang berkepanjangan yang mengganggu hubungan sistem urat syaraf.
3. Pengalaman
Karakteristik Anak Berkesulitan Belajar
Tidak ada seperangkat karakteristik atau prilaku yang akan dapat ditemukan pada seluruh anak yang diidentifikasikan sebagai anak berkesulitan belajar. Sebagian anak mungkin akan menunjukkan kesulitannya dalam aspek kognitif, aspek social, aspek bahasa serta aspek motorik. Bertolak dari pemikiran tersebut maka pembahasan aspek-aspek perkembangan berikut ini bias jadi tidak berlaku universal bagi semua anak berkesulitan belajar.

B. ASPEK KOGNITIF
Masalah-masalah kemampuan bicara, membaca, menulis, mendengarkan, berpikir, dan matematis semuanya merupakan penekanan terhadap aspek akademik atau kognitif.Tidak jarang anak yang mengalami kesulitan membaca menunjukan kemampuan berhitung yang tinggi. Hal tersebut membuktikan bahwa anak berkesulitan belajar memiliki kemampuan kognitif yang normal, akan tetapi kemampuan tersebut tidak berfungsi secara optimal sehingga terjadi keterbelakangan akademik yakni terjadinya kesenjangan antara apa yang mestinya dilakukan anak dengan apa yang dicapainya secara nyata.

C. ASPEK BAHASA
Masalah bahasa anak berkesulitan belajar menyangkut bahasa reseptif maupun ekspresif.Bahasa reseptif adalah kecakapan menerima dan memahami bahasa.Sedangkan bahasa ekspresif adalah kemampuan mengekspresikan diri secara verbal. Di dalam proses belajar kemampuan berbahasa merupakan alat untuk memahami dan menyatakan pikiran.

D. ASPEK MOTORIK
Masalah motorik anak berkesulitan belajar biasanya menyangkut keterampilan motorik-perseptual yang diperlukan untuk mengembangkan keterampilan meniru pola.Kemampuan ini sangat diperlukan untuk menggambar, menulis atau menggunakan gunting.Keterampilan tersebut sangat memerlukan koordinasi yang baik antara tangan dan mata yang dalam banyak hal koordinasi tersebut tidak dimiliki anak berkesulitan belajar.

E. ASPEK SOSIAL DAN EMOSI
Terdapat 2 karakteristik sosial-emosional anak berkesulitan belajar ialah: kelabilan emosional dan ke-impulsif-an. Kelabilan emosional ditunjukakan oleh sering berubahnya suasana hati dan temperamen. Ke-impulsif-an merujuk kepada lemahnya pengendalian terhadap dorongan-dorongan untuk berbuat sesuatu.

Seperti diungkapkan diatas bahwa karakteristik anak berkesulitan belajar tidak akan berlaku universal bagi seluruh anak tersebut karena setiap kesulitan belajar yang spesifik memiliki gejala dan karakteristik tersendiri. Pada bagian berikut ini secara ringkas dibahas beberapa jenis kesulitan belajar spesifik berserta gejala dan karakteristiknya.Gejala dan karakteristik ini dapat digunakan baik dalam rangka identifikasi anak kesulitan belajar maupun dalam upaya merancang layanan pendidikan dan psikologis serta remediasinya.

KETIDAKBERFUNGSIAN MINIMAL OTAK (MINIMAL BRAIN DYSFUNCTION)
ketidakberfungsian minimal otak digunakan untuk merujuk suatu kondisi gangguan syaraf minimal pada anak. Ketidakberfungsian ini bisa termanifestasi dalam berbagai kombinasi kesulitan seperti: persepsi, konseptualisasi, bahasa, memori, pengendalian perhatian, impulse (dorongan), atau fungsi motorik.
Anak-anak yang mengalami ketidakberfungsian minimal otak mungkin menampakkan berbagai simptom (gejala).Mereka mungkin menghadapi kesulitan untuk mengikuti kegiatan kelas seperti membaca, mengeja, dan berhitung; kesulitan dalam memahami konsep konkrit maupun abstrak; performanya cenderung kacau atau tak beraturan-tinggi dalam bidang tertentu dan rendah dalam bidang lainnya.Mereka sering menunjukkan gejala kurang mampu memusatkan perhatian, ketidakstabilan emosi, frustasi, dan sikap permusuhan.

Beberapa simptom spesifik dari ketidakberfungsian minimal otak ialah :

a. kelemahan dalam persepsi dan pembentukan konsep
• Kelemahan dalam membedakan ukuran.
• Kelemahan dalam membedakan kiri-kanan dan atas-bawah.
• Kelemahan tilikan ruang.
• Kelemahan orientasi waktu.
• Kelemahan dalam memperkirakan jarak.
• Kelemahan membedakan bagian-keseluruhan.
• Kelemahan memahami keutuhan.
b. Gangguan bicara dan komunikasi
• Kelemahan membedakan stimulus auditif.
• Perkembangan bahasa yang lambat.
• Seringkali kehilangan pendengaran.
• Seringkali bicara tak teratur.
c. Gangguan fungsi motorik
• Seringkali gemetar atau menunjukkan kekakuan gerak.
• Hiperaktivitas.
• Hipoaktivitas.
d. Kemunduran prestasi dan penyesuaian akademik
• Ketidakcakapan membaca.
• Ketidakcakapan berhitung.
• Ketidakcakapan mengeja.
• Ketidakcakapan menulis dan menggambar.
• Kelambanan menyelesaikan pekerjaan.
• Kebimbangan memahami instruksi.

e. Karakteristik emosional
• Impulsif.
• Eksplosif.
• Kelemahan kendali emosi dan dorongan.
• Toleransi rendah terhadap frustasi.
f. Gangguan proses berfikir
• Ketidakcakapan berfikir abstrak.
• Umumnya berfikir konkret.
• Kesulitan membentuk konsep.
• Seringkali berpikirnya tak terorganisasi.
• Keterbatasan rentang memori.
• Seringkali berfikir autistik.

APHASIA
Aphasia merujuk kepada suatu kondisi dimana anak gagal menguasai ucapan-ucapan bahasa yang bermakna pada usia sekitar 3;0 tahunan. Ketidakcakapan bicara ini tidak dapat dijelaskan karena faktor ketulian, keterbelakangan mental, gangguan organ bicara, atau faktor lingkungan.
Aphasia tampak dalam berbagai bentuk dengan simptom yang cukup kompleks.Secara garis besar simptom aphasia dapat digolongkan ke dalam tiga karakteristik utama berikut ini.

a. Receptive aphasia
• Tidak dapat mengidentifikasi apa yang didengar.
• Tidak dapat melacak arah.
• Kemiskinan kosakata.
• Tidak dapat memahami apa yang terjadi dalam gambar.
• Tidak dapat memahami apa yang dia baca.

b. Expressive aphasia
• Jarang bicara di kelas.
• Kesulitan dalam melakukan peniruan.
• Banyak pembicaraan yang tidak sejalan dengan ide.
• Jarang menampilkan gesture (gerak tangan).
• Ketidakcakapan menggambar dan menulis.

c. Inner aphasia
• Tidak mampu melakukan asosiasi; oleh karena itu sulit berpikir abstrak.
• Memberikan respon yang tak layak atas panggilan/sahutan.
• Lambat merespon.

Penyebab Aphasia :
Aphasia biasanya disebabkan oleh lesi dalam area berbahasa yang berhubungan dengan lobus frontal, lobus temporal dan lobus parietal di otak, seperti wilayah Broca, Wernicke’s area, dan jalur saraf di antara mereka. Area ini hampir selalu terletak di belahan otak kiri, dan pada banyak orang tempat ini sebagai kemampuan untuk memnghasilkan dan memahami bahasa.Namun, minoritas mengatakan bahwa kemampuan bahasa yang ditemukan berada di belahan kanan.Aphasia berkembang secara perlahan-lahan, seperti dalam kasus tumor otak atau progresif penyakit saraf, misalnya penyakit Alzheimer atau Parkinson.Aphasia mungkin juga disebabkan oleh pendarahan tiba-tiba yang terjadi di dalam otak.

DYSLEXIA
Disleksia (dyslexia) atau ketidakcakapan membaca, adalah jenis lain gangguan belajar. Perkataan disleksia berasal dari bahasa Yunani δυς- dys- (“kesulitan untuk”) dan λέξις lexis (“huruf” atau “leksikal”).Semula istilah disleksia ini digunakan di dalam dunia medis, tetapi pada saat ini digunakan pada dunia pendidikan dalam mengidentifikasi anak-anak berkecerdasan normal yang mengalami kesulitan berkompetisi dengan teman di sekolah. Simptom umum yang sering ditampilkan anak disleksia ialah :
• Kelemahan orientasi kanan-kiri.
• Kecenderungan membaca kata bergerak mundur; seperti “dia” dibaca “aid”.
• Kelemahan keterampilan jari.
• Kesulitan dalam berhitung, kesalahan hitung.
• Kelemahan memori.
• Kesulitan auditif.
• Kelemahan memori-visual, tidak mampu memvisualkan kembali objek, kata, atau huruf.
• Dalam membaca keras tidak mampu menkonversikan symbol visual kedalam symbol auditif yang sejalan dengan bunyi kata secara benar. Kata yang diucapkan tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya.

Penyebab Dyslexia :
Tim peneliti Jerman dan Swedia menemukan gen DCDC2 di daerah koromosom 6. Diduga gen tersebut merupakan faktor penting penyebab disleksia, karena mempengaruhi migrasi sel saraf pada otak yang sedang berkembang.

Cara Mengatasi Dyslexia :
Pengobatan terbaik untuk mengenali kata adalah pengajaran langsung yang memasukkan pendekatan multisensori.Pengobatan jenis ini terdiri dari mengajar dengan bunyi-bunyian dengan isyarat yang bervariasi, biasanya secara terpisah dan bila memungkinkan, sebagai bagian dari program membaca.
Pengajaran tidak langsung untuk mengenali kata juga sangat membantu.Pengajaran ini biasanya terdiri dari latihan untuk meningkatkan pelafalan kata atau pengertian membaca.Anak-anak diajarkan bagaimana memproses suara-suara dengan menggabungkan suara-suara ke dalam bentuk kata-kata, dengan memisahkan kata-kata ke dalam bagian-bagian, dan dengan mengenali letak suara pada kata.
Pengajaran component-skill untuk mengenali kata juga sangat membantu. Hal ini terdiri dari latihan menggabung suara-suara ke dalam bentuk kata-kata, membagi kata ke dalam bagian kata , dan untuk mengenali letak suara pada kata

KELEMAHAN PERSEPTUAL ATAU PERSEPTUAL MOTORIK
kelemahan perseptual atau perseptual-motorik sebenarnya merujuk kepada masalah yang sama. Sebenarnya persepsi dapat diidentifikasi tanpa mengaitkan dengan aspek motorik.Persepsi itu sendiri berfungsi membedakan stimulus sensoris, yang pada gilirannya harus diorganisasikan ke dalam pola-pola yang bermakna.Seorang anak membedakan dan menafsirkan objek sebagai suatu kesatuan. Akan tetapi jika kelemahan perseptual-motorik itu terjadi, integrasi antara persepsi dan gerak motorik akan terganggu. Kondisi ini menjadikan anak tidak dapat melakukan pengamatan secara tepat dan tidak mampu menterjemahkan pengamatan itu ke dalam alur gerak motorik, dan bahkan anak tidak dapat mendengarkan dan melihat secara normal.Biasanya anak yang mengalami gangguan perseptual motorik ini mengalami kesulitan dalam memahami dan menyatakan ide.
Simptom umum yang sering ditunjukkan oleh anak yang mengalami kelemahan perseptual atau perseptual-motorik ialah :
• Kemiskinan koordinasi visual-motorik.
• Gangguan keseimbangan badan pada waktu berjalan maju, mundur, dan menyamping.
• Kurang terampil dalam melompat.
• Kesulitan mengamati diri dalam konteks ruang dan waktu.
• Kesulitan melakukan gerak ritme normal; saat menulis cenderung mengurangi dan menambah ukuran, bentuk, warna, ketebalan.
• Kesulitan dalam mengikuti konsistensi objek; d menjadi b.
F. IDENTIFIKASI ANAK BERKESULITAN BELAJAR
Keragaman definisi kesulitan belajar membawa keragaman pula dalam orientasi filosofis tentang identifikasi dan pengajaran bagi anak berkesulitan belajar. Jika kita yakin bahwa karakteristik utama kesulitan belajar itu ialah hiperaktif dan masalah perseptual motorik maka prosedur identifikasi akan diarahkan ke sana. Jika kita yakin bahwa masalah bahasa itu merupakan sentral utama maka identifikasi kesulitan belajar akan difokuskan pada pengukuran keterampilan berbahasa. Dengan demikian identifikasi anak berkesulitan belajar akan sangat bergantung kepada definisi, orientasi, dan prosedur evaluasi yang digunakan. Akibatnya banyak prosedur identifikasi dan metode pengajaran yang digunakan untuk anak berkesulitan belajar.
Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :
a. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
b. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
c. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
d. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
e. Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
f. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti: pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
Adapun langkah-langkah mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan
belajar:
1. Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam satu kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar baik bersifat umum maupun khusus dalam bidang studi.
2. Meneliti nilai ulangan yang tercantum dalam “record academic” kemudian dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas atau dengan kriteria tingkat penguasaan minimal kompetensi yang dituntut.
3. Menganalisis hasil ulangan dengan melihat sifat kesalahan yang dibuat.
4. Melakukan observasi pada saat siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar yaitu mengamati tingkah laku siswa dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan di dalam kelas, berusaha mengetahui kebiasaan dan cara belajar siswa di rumah melalui check list.
5. Mendapatkan kesan atau pendapat dari guru lain terutama wali kelas,dan
guru pembimbing.

Kendati pun demikian prinsip-prinsip dasar evaluasi bagi seluruh anak berkesulitan belajar perlu diketahui dan dipahami. Prinsip-prinsip dasar tersebut ialah :
1. Tes atau teknik evaluasi lain harus diberikan dalam bahasa anak, dapat dipahami oleh anak.
2. Tidak ada prosedur tunggal yang bisa digunakan untuk menentukan program pendidikan yang layak bagi anak berkesulitan belajar.
3. Evaluasi harus dilakukan oleh tim dari berbagai disiplin, setidak-tidaknya terdiri atas seorang guru atau ahli lain yang mengetahui masalah kesulitan belajar.
4. Kriteria penetapan kesulitan belajar hendaknya mempertimbangkan hal-hal berikut:
a. Seorang anak dikatakan mengalami kesulitan belajar jika anak tidak mampu mencapai prestasi sesuai dengan usia dan tingkat kecakapan dalam satu atau lebih bidang :
 Ekspresi lisan.
 Mendengarkan pemahaman.
 Ekspresi tulisan.
 Keterampilan membaca dasar.
 Membaca pemahaman.
 Perhitungan matematis, atau
 Berpikir matematis.
b. Seorang anak tidak diidentifikasi sebagai mengalami kesulitan belajar jika kesenjangan antara kecakapan dan prestasi disebabkan oleh :
 Hambatan visual, pendengaran, atau motorik.
 Keterbelakangan mental.
 Gangguan emosional.
 Ketidakberuntungan lingkungan, budaya, atau ekonomi
 Pelaporan hasil identifikasi hendaknya menyatakan :
o Kesulitan belajar khusus apa yang dialami anak.
o Dasar yang digunakan untuk menentukan jenis kesulitan.
o Perilaku-perilaku yang relevan yang tercatat selama dilakukan pengamatan.
o Hubungan antara perilaku tersebut dengan keberfungsian akademik anak.
o Temuan-temuan medis yang relevan dengan pendidikan.
o Kesenjangan antara prestasi dan kecakapan yang tak dapat diatasi tanpa pendidikan dan layanan khusus.
o Pertimbangan tentang pengaruh ketakberuntungan lingkungan, budaya, dan ekonomi.

G. Masalah dan Dampak dari Anak Berkesulitan Belajar
Secara umum perilaku bermasalah yang muncul dari kesulitan belajar terutama akan terkait dengan masalah penyesuaian diri maupun akademik anak, hubungan sosial, dan stabilitas emosi.

 Bagi Anak (Anak Berkesulitan Belajar)
Kondisi seperti ini dapat menimbulkan frustasi atau cemas yang berlebihan karena dia selalu mengalami kegagalan dalam memenuhi tuntutan dan tugas belajar. Dengan kata lain dalam banyak hal anak tidak mampu menguasai tugas-tugas perkembangan yang harus dicapainya.

 Bagi Keluarga
Kondisi anak seperti itu dapat menimbulkan kekhawatiran orang tua.Apalagi jika orang tua tidak memahami masalah yang dialami anaknya.Kekecewaan, perasaan dan pikiran aneh bisa muncul pada orang tua dan tak mustahil menimbulkan frustasi orang tua atau keluarga.

 Bagi Penyelenggara Pendidikan

Perilaku bermasalah karena kesulitan belajar menimbulkan dampak terhadap perlunya penempatan dan pelayanan khusus.Kendati pun demikian penempatan dan pelayanan khusus ini tidak berarti perlu penyelenggaraan kelas khusus bagi anak berkesulitan belajar. Penyelenggaraan kelas khusus akan membawa dampak kurang baik karena anak tidak bisa berkomunikasi atau berinteraksi dengan teman sebayanya yang normal. Penempatan dan pelayanan khusus tersebut akan lebih baik jika diwujudkan dalam pelayanan semacam resource room, dimana anak memperoleh layanan tanpa harus dipisahkan dari kelompoknya. Dalam layanan semacam ini, perlu tersedia guru khusus yang dapat memberikan layanan dan konsultasi bagi guru kelas dimana anak berkesulitan belajar ada.Melalui kegiatan bersama antara guru kelas dan guru khusus tadi, rancangan layanan pendidikan dan psikologis dikembangkan.Mengingat harapan tersebut di Indonesia masih sulit diwujudkan, maka hal yang paling mungkin ialah membekali para guru dan calon guru sekolah dasar dengan pengetahuan/keterampilan memahami dan membantu anak berkesulitan belajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s